Mensikapi Kemenangan

islam in blue

islam is deep in my heart and everywhere

Sebagian orang merasa heran, mengapa kita merayakan Idul Fitri di akhir Ramadhan? Apakah kita merasa senang dengan berlalunya bulan agung yang di dalamnya terdapat Rahmat dan Kasih-Sayang Allah? Alasan yang tepat kita merayakan Idul Fitri bukanlah karena kita gembira dengan perginya bulan agung tersebut, namun karena kita bersyukur kepada Allah atas kesempatan dan kekuatan yang dilimpahkan-Nya kepada kita untuk memenuhi perintah-Nya di bulan yang penuh barokah itu. Kita bersyukur bahwa kita mampu dan dimampukan untuk memenuhi seruan-Nya – “Hai orang-orang yang beriman telah ditetapkan atas kalian untuk shaum” (QS 2:183).
Kita berbahagia dapat melaksanakan shaum. Sebagai bukti kita memenuhi seruan tadi (2:183), kita melaksanakan shalat selama bulan ramadhan, yang pahala shalat sunatnya setara dengan shalat fardhu, Apatah lagi kita melaksanakan shalat fardhu, yang pahalanya Allah sendirilah yang akan membalasnya.
Imam Ali kw memiliki banyak kata mutiara yang indah tentang Idul Fitri yang mana di dalamnya beliau berkata : “Id adalah bagi mereka yang shaumnya diterima oleh Allah, dan bagi mereka yang shalatnya dinilai oleh Allah. Setiap hari yang di dalamnya engkau tidak bermaksiat kepada Allah adalah hari raya.” Ungkapan ini selayaknya kita renungkan. Setiap hari yang di dalamnya kita tidak berbuat dosa hakikatnya merupakan hari raya bagi kita.
Nabi Muhammad saw dan para pengikutnya yang setia merayakan Idul Fitri dan begitu pula seluruh kaum muslimin pada umumnya. Nabi menyarankan kepada ummatnya agar berpakaian yang baik, memakai wangi-wangian, dan pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat Idul Fitri, saling bertukar ucapan selamat Idul Fitri, saling berkunjung di antara saudaranya seiman seagama, dan mengisi hari-harinya dengan bergembira dan bersyukur kepada-Nya.
Mari kita lihat diri kita, kegembiraan yang kita rasakan ini apakah kegembiraan karena kita dapat melaksanakan tugas-tugas penghambaan kita kepada Sang Khaliq, ataukah kita gembira karena merasa terbebas dari beban tugas yang dirasa telah menghimpit dan membelenggu kebebasan kita selama satu bulan, ataukah karena kita dapat membeli baju-baju baru untuk kita, anak-anak kita, atau karena kita dapat menyajikan aneka kue-kue dan masakan yang lezat.
Terlintaskah dalam benak kita tentang hasil didikan shaum selama satu bulan ini? Sudahkah kita peduli akan nasib saudara kita? Terlintaskah kita untuk peduli memikirkan nasib saudara-saudara kita yang dizholimi di belahan bumi lainnya, pedulikah kita dengan penderitaan muslimin Palestina yang dibantai oleh SYAITAN BESAR yang bernama ISRAEL dan Amerika? Bagaimana penderitaan muslimin dan nasib mereka yang terpuruk oleh kejamnya kaum Kafir?
Laparnya shaum mendidik kita untuk memiliki kepekaan sosial (Social Sense) yang tinggi terhadap nasib saudara-saudara kita. Kurang tidurnya kita mendidik kita agar selalu waspada akan ancaman yang selalu mengintai keselamatan aqidah umat, artinya kita dituntut memiliki pandangan mata hati (Bashirah) yang tajam sebagaimana Ja’far Ash-Shodiq ra meriwayatkan bahwa : “Dua mata yang akan dilindungi oleh Allah dari dahsyatnya api neraka adalah mata yang selalu basah karena tangisan taubatnya meratapi dosa-dosanya dan mata yang selalu awas akan bahaya yang mengintai umat muslimin”.
Sudahkah shaum kita menjadi Pusdiklat bagi kita, Pusdiklat yang didirikan oleh Allah, dengan cara Allah dan untuk kepentingan Allah semata sehingga kita sebagai siswa-siswa didikan yang lulus dengan peringkat tertinggi untuk melaksanakan program-program Allah dalam pusdiklat tadi, sehingga kita layak dan pantas menyandang gelar hamba-hamba Allah yang qualified dan certified untuk melaksanakan proses hukum Allah di bumi Karunia Allah ini.
Yakinkah Ibadah shaum kita diterima Allah? Yakinkah shalat kita dinilai Allah? Sehingga kita pantas untuk merayakan IDUL FITRI. Sungguh apabila shaum dan shalat kita belum pasti diterima Allah, layakkah kita merayakannya? Salah satu indikasi diterimanya shaum dan shalat di sisi Allah adalah ibadah yang dilakukan si hamba itu berbekas (Atsar) dalam kehidupan sehari-hari. Perhatikanlah bagi si shaum, apabila setelah idul fitri bisa meninggalkan maksiat kepada Allah, tidak membiarkan keadaan lingkungan sekitarnya melecehkan keagungan Islam, tidak acuh tak acuh terhadap kerusakan akhlak lingkungannya, itulah diantara diterimanya ibadah shaum. Begitu pula ibadah shalat yang diterima dengan menjadikan shalat sebagai istitho’ah (alat penunjang untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah) dalam segala dimensinya, “Jadikanlah shobar dan shalat sebagai penolongmu” (2:……). shalat yang terkabul adalah shalat yang menjadi media pencegah segala bentuk kejahatan dan kemungkaran.
Semoga bergembiranya kita di hari raya ini karena kita telah memenuhi seruan-Nya yang Mulia untuk kita songsong ketaqwaan kepada Allah sebagai hasil dari didikan shaum kita.
Taqobballlahu minna wa minkum shiama wa shiamakum
Minal a’idzin wal fa’idzin.
Mohon Ma’af lahir dan bathin.

Abu Yahya