Semangat Persaudaraan

Jaman sebelum diutusnya Rasul saw adalah ajang tragedi dalam berbagai mental dan bidang material. Dekadensi moral dan kekacauan menjadi tragedi paling mengerikan yang menyebabkan manusia terseret ke dalam kehidupan binatang buas, hukum rimba, perselisihan paham, perkelahian, pembunuhan, perebutan kekuasaan, dan pembalasan dendam.

Ketika fajar Islam menyebarkan cahayanya ke seluruh umat manusia, melalui prinsip abadinya dan konstitusi yang tiada bandingnya, menghentikan tragedi ini dan memutuskan mata rantai aksi balas dendam ini. Kemudian, mengubah kumpulan manusia jahiliyah menjadi “bangsa terbaik yang pernah hidup di tengah umat manusia.” Iman menggantikan anti Tuhan, aturan menggantikan kekacauan, pengetahuan menggantikan kejahiliyahan, damai menggantikan peperangan, dan kemurahan hati menggantikan pembalasan.
Begitulah, konsep-konsep jahiliyah itu berangsur-angsur hilang dan digantikan oleh prinsip baru, Islam. Nabi saaw mulai membangun bangsa ideal yang memiliki kepribadian unik, berakhlak, dan sempurna. Ketika mereka maju di bawah Undang-undang yang bersumber dari al-Quranul Karim dan kepemimpinan Nabi saw, kaum muslimin melanglang cakrawala kedermawanan sampai mereka bisa mencapai prinsip persaudaraan dalam suatu metoda yang tidak bisa tertandingi oleh metode lain. Lebih dari itu, tali keimanan menjadi lebih kuat dibandingkan pertalian kekerabatan, demikian juga, ikatan iman demikian agung di atas kesukuan dan ikatan kebangsaan. Orang Islam, karenanya, menjadi suatu bangsa yang dipersatukan oleh barisan yang rapih, kepribadian tinggi, dan ketaatan hukum:
“Hai Manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Alloh ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS 49:13)
Al-Quran yang suci menanamkan konsep persaudaraan ruhaniah dalam mentalitas melalui banyak ayat dengan gaya bahasa yang bijaksana dan luar biasa. Al-Qur’an, mengundang-undangkan persaudaraan sebagai hukum yang harus ditegakkan oleh kaum muslimin:
“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Alloh supaya kamu mendapat rahmat. (QS 49:10).

Pada kesempatan yang lain, Al-Qur’an mengkonfirmasikan hukum persaudaraan dan memperingatkan akan adanya faktor-faktor perselisihan paham, mengingatkan keberkahan Islam dengan adanya persaudaraan dan keselarasan setelah periode panjang kehidupan berselisih paham dan perseteruan:

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Alloh kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Alloh mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Alloh orang-orang yang bersaudara. (QS 3:103).
Ringkasnya, Islam berupaya keras memperkuat ikatan yang dijiwai persaudaraan antara sesama muslim dan melindunginya dari kecenderungan perselisihan paham dan perpecahan melalui konstitusi ikatan sosial.
Sebagai model, kita sajikan sebagai berikut:
Konstitusi Islam yang berkaitan dengan sosial menempatkan perasaan dan emosi kaum muslimin terbebas dari perbudakan dan sektarianisme suku untuk membimbing mereka kepada tujuan paling mulia; yakni, ketaatan kepada Alloh Swt semata dan pencarian menuju Keridhoan-Nya. Cinta, benci, memberi, mengambil, mendukung, dan memberhentikan- kesemuanya ini harus semata-mata untuk kepentingan Alloh. Bila itu terjadi, tonggak persaudaraan akan menjadi lebih kuat dan kaum muslimin bagaikan bangunan yang kokoh dengan masing-masing bagiannya memperkuat bagian lainnya.