The Power Within

You are stronger than you think;

Remember to stand tall.

Every challenge in your life helps you to grow.

Every problem you encounter,
Strengthens your mind and your soul.

Iklan

Al-Insan (Manusia)

(Qs 10:12). dan apabila manusia ditimpa bahaya Dia berdoa kepada Kami dalam Keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, Dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah Dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.
(QS 11:9). dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah Dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih.
(QS 14:34). dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).
(QS 17:53). dan Katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.
(QS 18:54)

the origin of man

Man and al-Qur'an

. dan Sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran ini bermacam-macam perumpamaan. dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.
(QS 19:67). dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali?

Mensikapi Kemenangan

islam in blue

islam is deep in my heart and everywhere

Sebagian orang merasa heran, mengapa kita merayakan Idul Fitri di akhir Ramadhan? Apakah kita merasa senang dengan berlalunya bulan agung yang di dalamnya terdapat Rahmat dan Kasih-Sayang Allah? Alasan yang tepat kita merayakan Idul Fitri bukanlah karena kita gembira dengan perginya bulan agung tersebut, namun karena kita bersyukur kepada Allah atas kesempatan dan kekuatan yang dilimpahkan-Nya kepada kita untuk memenuhi perintah-Nya di bulan yang penuh barokah itu. Kita bersyukur bahwa kita mampu dan dimampukan untuk memenuhi seruan-Nya – “Hai orang-orang yang beriman telah ditetapkan atas kalian untuk shaum” (QS 2:183).
Kita berbahagia dapat melaksanakan shaum. Sebagai bukti kita memenuhi seruan tadi (2:183), kita melaksanakan shalat selama bulan ramadhan, yang pahala shalat sunatnya setara dengan shalat fardhu, Apatah lagi kita melaksanakan shalat fardhu, yang pahalanya Allah sendirilah yang akan membalasnya.
Imam Ali kw memiliki banyak kata mutiara yang indah tentang Idul Fitri yang mana di dalamnya beliau berkata : “Id adalah bagi mereka yang shaumnya diterima oleh Allah, dan bagi mereka yang shalatnya dinilai oleh Allah. Setiap hari yang di dalamnya engkau tidak bermaksiat kepada Allah adalah hari raya.” Ungkapan ini selayaknya kita renungkan. Setiap hari yang di dalamnya kita tidak berbuat dosa hakikatnya merupakan hari raya bagi kita.
Nabi Muhammad saw dan para pengikutnya yang setia merayakan Idul Fitri dan begitu pula seluruh kaum muslimin pada umumnya. Nabi menyarankan kepada ummatnya agar berpakaian yang baik, memakai wangi-wangian, dan pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat Idul Fitri, saling bertukar ucapan selamat Idul Fitri, saling berkunjung di antara saudaranya seiman seagama, dan mengisi hari-harinya dengan bergembira dan bersyukur kepada-Nya.
Mari kita lihat diri kita, kegembiraan yang kita rasakan ini apakah kegembiraan karena kita dapat melaksanakan tugas-tugas penghambaan kita kepada Sang Khaliq, ataukah kita gembira karena merasa terbebas dari beban tugas yang dirasa telah menghimpit dan membelenggu kebebasan kita selama satu bulan, ataukah karena kita dapat membeli baju-baju baru untuk kita, anak-anak kita, atau karena kita dapat menyajikan aneka kue-kue dan masakan yang lezat.
Terlintaskah dalam benak kita tentang hasil didikan shaum selama satu bulan ini? Sudahkah kita peduli akan nasib saudara kita? Terlintaskah kita untuk peduli memikirkan nasib saudara-saudara kita yang dizholimi di belahan bumi lainnya, pedulikah kita dengan penderitaan muslimin Palestina yang dibantai oleh SYAITAN BESAR yang bernama ISRAEL dan Amerika? Bagaimana penderitaan muslimin dan nasib mereka yang terpuruk oleh kejamnya kaum Kafir?
Laparnya shaum mendidik kita untuk memiliki kepekaan sosial (Social Sense) yang tinggi terhadap nasib saudara-saudara kita. Kurang tidurnya kita mendidik kita agar selalu waspada akan ancaman yang selalu mengintai keselamatan aqidah umat, artinya kita dituntut memiliki pandangan mata hati (Bashirah) yang tajam sebagaimana Ja’far Ash-Shodiq ra meriwayatkan bahwa : “Dua mata yang akan dilindungi oleh Allah dari dahsyatnya api neraka adalah mata yang selalu basah karena tangisan taubatnya meratapi dosa-dosanya dan mata yang selalu awas akan bahaya yang mengintai umat muslimin”.
Sudahkah shaum kita menjadi Pusdiklat bagi kita, Pusdiklat yang didirikan oleh Allah, dengan cara Allah dan untuk kepentingan Allah semata sehingga kita sebagai siswa-siswa didikan yang lulus dengan peringkat tertinggi untuk melaksanakan program-program Allah dalam pusdiklat tadi, sehingga kita layak dan pantas menyandang gelar hamba-hamba Allah yang qualified dan certified untuk melaksanakan proses hukum Allah di bumi Karunia Allah ini.
Yakinkah Ibadah shaum kita diterima Allah? Yakinkah shalat kita dinilai Allah? Sehingga kita pantas untuk merayakan IDUL FITRI. Sungguh apabila shaum dan shalat kita belum pasti diterima Allah, layakkah kita merayakannya? Salah satu indikasi diterimanya shaum dan shalat di sisi Allah adalah ibadah yang dilakukan si hamba itu berbekas (Atsar) dalam kehidupan sehari-hari. Perhatikanlah bagi si shaum, apabila setelah idul fitri bisa meninggalkan maksiat kepada Allah, tidak membiarkan keadaan lingkungan sekitarnya melecehkan keagungan Islam, tidak acuh tak acuh terhadap kerusakan akhlak lingkungannya, itulah diantara diterimanya ibadah shaum. Begitu pula ibadah shalat yang diterima dengan menjadikan shalat sebagai istitho’ah (alat penunjang untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah) dalam segala dimensinya, “Jadikanlah shobar dan shalat sebagai penolongmu” (2:……). shalat yang terkabul adalah shalat yang menjadi media pencegah segala bentuk kejahatan dan kemungkaran.
Semoga bergembiranya kita di hari raya ini karena kita telah memenuhi seruan-Nya yang Mulia untuk kita songsong ketaqwaan kepada Allah sebagai hasil dari didikan shaum kita.
Taqobballlahu minna wa minkum shiama wa shiamakum
Minal a’idzin wal fa’idzin.
Mohon Ma’af lahir dan bathin.

Abu Yahya

Pearls of Wisdom

* Don’t love the Heart that hurts you and don’t hurt the Heart that loves you.

* Don’t cry over anyone who won’t cry over you.

* Good friends are hard to find, harder to leave, and impossible to forget.

* Most people walk in and out of your life, but only friend’s leave footprints in your heart.

* True friendship “never” ends. Friends are forever.

* People are lonely because they build walls instead of bridges.

* If we are incapable of finding peace in ourselves, it is pointless to search elsewhere.

* The bond that links your true family is not one of blood, but of respect and joy in each other’s life.
Rarely do members of one family grow up under the same roof.

* A change of heart changes everything.

* Our greatest glory is not in ever falling, but in rising every time we fall.

* You only live once – but if you work it right, once is enough.

* One generation plants trees, and the next enjoys the shade.

* It is difficult to live in the present, ridiculous to live in the future, and impossible to live in the past. Nothing is as far away as one minute ago.

Untaian Kata Mutiara

Hak lidahmu atas dirimu yang harus engkau penuhi adalah menyucikannya dari ucapan-ucapan kotor dan keji, membiasakannya berucap yang baik-baik saja, memaksanya agar selalu sopan santun, tidak menggunakannya kecuali untuk saat-saat yang perlu dan mendatangkan manfaat bagi kehidupan agama dan dunia, dan menyelamatkannya dari ucapan sia-sia yang mungkin sedikit berfaedah, namun tak dijamin manfaatnya lebih besar dari mudharatnya. Lidah merupakan saksi dan petunjuk atas adanya akal. Bukti akal dari seorang yang berakal adalah melalui reputasi ucapan baiknya. (Risalatul Huqua, Penerbit Pustaka Intermasa).

Adapun untuk memenuhi hak jiwa-ragamu adalah dengan cara menggunakan segala kemampuan dalam ketaatan kepada Alloh, yaitu dengan memenuhi hak lidahmu, pendengaranmu, penglihatanmu, tanganmu, kakimu, perutmu, an kemaluanmu. (Risalatul Huquq, Pustaka Intermasa)

Adapun hak haji adalah hendaknya engkau mengetahui bahwa ia merupakan suatu cara datang bertamu kepada Tuhanmu dan suatu cara terbang kepada-Nya dari dosa-dosamu; melaluinya tobatmu diterima dan engkau melaksanakan suatu kewajiban yang diwajibkan kepadamu oleh Alloh.

Ada enam akibat buruk dari perzinahan. Tiga diantaranya terjadi di dunia dan tiga lainnya di akhirat kelak. Akibat perzinahan di dunia yaitu hilangnya cahaya pada wajahnya (kehormatan diri), memutuskan rezeki, dan memperpendek umur. Adapun tiga akibat zinah di akhirat adalah mendatangkan murka Alloh, mempersulit hisab, dan memasukan orang ke dalam neraka.
Ada tiga hal yang Alloh tidak akan mengizinkan siapa pun untuk mengabaikannya, yakni meninggalkan sesuatu yang diamanatkan kepada kita oleh pemiliknya, baik dia seorang pelaku kebaikan maupun penzina, menetapi perjanjian kita, baik itu dengan pelaku kebaikan maupun orang-orang jahat, dan berbuat baik kepada kedua orangtua kita, baik mereka itu pelaku kebaikan maupun pelaku kejahatan. (al-Baqir).

Adapun hak ayahmu adalah hendaknya engkau mengetahui bahwa dia adalah akarmu dan engkau adalah cabangnya. Dan tanpanya, engkau tidak akan ada. Setiap kali engkau melihat sesuatu dalam dirimu sendiri yang membahagiakanmu, hendaknya engkau mengetahui bahwa ayahmu adalah akar nikmat itu kepadamu. Maka, pujilah Alloh dan bersyukurlah kepada-Nya dalam pengakuan itu.

Mutiara Hikmah

Cegahlah jiwamu dari membawamu kerusakan dan halangilah kerugian sebelum engkau meninggalkannya. Cobalah membebaskannya dari keinginan-keinginan yang tidak halal sekeras usaha engkau dalam mencari penghasilan, karena sesungguhnya jiwa tunduk pada perbuatan-perbuatan. (Ja’far Shodik)

Hak lidahmu atas dirimu yang harus engkau penuhi adalah menyucikannya dari ucapan-ucapan kotor dan keji, membiasakannya berucap yang baik-baik saja, memaksanya agar selalu sopan santun, tidak menggunakannya kecuali untuk saat-saat yang perlu dan mendatangkan manfaat bagi kehidupan agama dan dunia, dan menyelamatkannya dari ucapan sia-sia yang mungkin sedikit berfaedah, namun tak dijamin manfaatnya lebih besar dari mudharatnya. Lidah merupakan saksi dan petunjuk atas adanya akal. Bukti akal dari seorang yang berakal adalah melalui reputasi ucapan baiknya. (Risalatul Huquq, Penerbit Pustaka Intermasa).

Adapun untuk memenuhi hak jiwa-ragamu adalah dengan cara menggunakan segala kemampuan dalam ketaatan kepada Alloh, yaitu dengan memenuhi hak lidahmu, pendengaranmu, penglihatanmu, tanganmu, kakimu, perutmu, dan kemaluanmu. (Risalatul Huquq, Pustaka Intermasa)

Adapun hak haji adalah hendaknya engkau mengetahui bahwa ia merupakan suatu cara datang bertamu kepada Tuhanmu dan suatu cara terbang kepada-Nya dari dosa-dosamu; melaluinya tobatmu diterima dan engkau melaksanakan suatu kewajiban yang diwajibkan kepadamu oleh Alloh.

Ada enam akibat buruk dari perzinahan. Tiga diantaranya terjadi di dunia dan tiga lainnya di akhirat kelak. Akibat perzinahan di dunia yaitu hilangnya cahaya pada wajahnya (kehormatan diri), memutuskan rezeki, dan memperpendek umur. Adapun tiga akibat zinah di akhirat adalah mendatangkan murka Alloh, mempersulit hisab, dan memasukan orang ke dalam neraka.

Ada tiga hal yang Alloh tidak akan mengizinkan siapa pun untuk mengabaikannya, yakni meninggalkan sesuatu yang diamanatkan kepada kita oleh pemiliknya, baik dia seorang pelaku kebaikan maupun penzina, menetapi perjanjian kita, baik itu dengan pelaku kebaikan maupun orang-orang jahat, dan berbuat baik kepada kedua orangtua kita, baik mereka itu pelaku kebaikan maupun pelaku kejahatan. (al-Baqir).

Adapun hak ayahmu adalah hendaknya engkau mengetahui bahwa dia adalah akarmu dan engkau adalah cabangnya. Dan tanpanya, engkau tidak akan ada. Setiap kali engkau melihat sesuatu dalam dirimu sendiri yang membahagiakanmu, hendaknya engkau mengetahui bahwa ayahmu adalah akar nikmat itu kepadamu. Maka, pujilah Alloh dan bersyukurlah kepada-Nya dalam pengakuan itu.

Seorang ibu lebih menyukai kehidupan anak daripada kehidupannya sendiri dan, bahkan, kadang-kadang sebagian ibu akan mengorbankan nyawanya sendiri untuk menyelamatkan bayi mereka. Seorang ibu mampu menanggung banyak kesulitan namun tidak kuasa untuk mendengar tangisan banyinya. As-Sajjad berkata, “Dia (ibumu) tetap rela menjadikanmu kenyang ketika dia sendiri lapar; memberimu pakaian ketika ia kedinginan …..(Risalatul Huquq, Pustaka Intermasa)

Seluruh waktu ibu dihabiskan untuk merawat anak dari waktu dilahirkan. Bahkan, sedikit pengabaian atas si anak oleh sang ibu bisa berakibat pada kematian anak. Siang dan malam dipakai oleh sang ibu untuk merawatnya, sampai-sampai dirinya sendiri mengabaikan istirahat.

Rosululloh saaw berkata kepada Ali ra, “Wahai Abu Hasan! Dengarkan aku. Aku tidak akan mengatakan sesuatu kepadamu selain apa yang Tuhanku telah perintahkan kepadaku. Alloh akan menetapkan ganjaran ibadah berpuasa di siang hari bertahun-tahun dan melakukan qiyamul lail di malam hari sebanyak rambut yang tumbuh pada tubuh seseorang, karena membantu isterinya dalam pekerjaan rumah tangga. Ganjaran yang sama yang telah diberikan Alloh kepada orang-orang shabar, Daud, Ya’qub, dan Isa alaihimussalam.

Believe it or not

Dr. Adolf, seorang anggota American College of Surgeons, berkata, “Ketika aku bekerja sebagai seorang dokter di rumah sakit, kami merawat seorang perempuan tua berusia 70 tahun yang mengalami patah tulang pinggul. Ketika aku melihat kembali hasil foto sinar X-nya, aku perhatikan ia mulai pulih dengan cepat dan tulang-tulangnya merekonstruksi diri dengan cepat pula. Aku mengucapkan selamat kepadanya lantaran reaksi bagus dari tubuhnya selama perawatan. Ia banyak mendapatkan kemajuan atas rasa sakitnya itu dan bisa berjalan dengan menggunakan tongkat.  Ahli bedah yang telah mengoperasinya berkata kepadaku bahwa ia telah sembuh dan dapat keluar dari RS dalam waktu 24 jam. Pada hari yang sama, puterinya menjenguk ke RS. Aku berkata kepadanya bahwa ibunya telah pulih dan ia bisa membawanya pulang esok harinya. Ia tidak mengatakan apa pun kepadaku dan pergi menemui ibunya untuk berbincang-bincang.

Ia berkata, suaminya berujar bahwa mereka tidak dapat membawanya pulang kembali melainkan kemungkinan akan membawanya ke rumah jompo.  Alhasil, beberapa jam kemudian, aku dipanggil untuk memeriksanya. Ia dalam keadaan kritis dan meninggal kurang dari 24 jam setelah itu.  Ia telah sembuh dari suatu pembedahan yang sulit atas tulang pinggulnya yang patah, namun tidak mampu menanggung hatinya yang remuk.  Hatinya yang remuk tidak bisa lagi disembuhkan!.”