Karbala yang terlupakan

Ada kemungkinan sekian banyak orang Islam tidak memahami akan peristiwa Karbala bahkan mendengar sekalipun tidak, hal ini logis saja terjadi sehubungan orientasi kehidupan mayoritas muslim tidak mempedulikan jenis kepemimpinannya, apakah pemimpin sekuler atau pemimpin Islam, bahkan di dalam Islam sendiri pun ada yang mati-matian membela sistem khilafah dan sebagian lagi yakin akan kebenaran sistem imamah. Sepintas jenis kepemimpinan tidak begitu signifikan-dalam kaca mata manusia- padahal sangat menentukan nasib akhir manusia kelak di alam akhirat. Inilah bagi orang yang tidak memahami atau menolak sistem imamiyah tidak akan mengenal atau ‘tutup mata’ terhadap nasib yang dialami oleh Imam Husain-cucu kesayangan Nabi saw- beserta keluarga dan pengikut setianya.
Peristiwa Karbala mencerminkan perseteruan hebat nan luar biasa dahsyat antara haq dan bathil, ketaqwaan dan kezhaliman, perseteruan Imam Husain (pemimpin taqwa) melawan Yazid bin Mu’awiyah laknatulloh (pemimpin zhalim). Al-Hussain adalah manusia revolusioner, manusia al-Haq, beragama lurus (hanif), Imam bagi umat Islam. Sebagai wakil / penerus kakeknya Nabi Muhammad saw, perhatian utama Imam Hussain adalah membela dan melindungi Islam dan membimbing umat Islam. Sedangkan Mu’awiyah dan Yazid berkeinginan melanggengkan kekuasaan melalui tebasan pedang dan banjir darah di kalangan umat Islam pasca Rasululloh dan Khulafaur Rasyidin. Mu’awiyah dan Yazid menggunakan pasukan bengis untuk merampas kekuasaan atas umat Islam bahkan dengan cara yang diharamkan sekalipun dengan segala tipu daya kotor dan najis.
Imam Hussain sebagai penghulu ahlul bayt tidak pernah mengakui Mu’awiyah beserta para pengikutnya. Sebelumnya Imam Ali as telah bertempur memerangi Mu’awiyah karena Mu’awiyah tiada henti-hentinya menyimpangkan prinsip-prinsip Islam. Imam Hasan harus menelan kenyataan pahit dengan terpaksa melakukan perjanjian damai dengan Mu’awiyah demi memelihara keamanan dan jiwa kaum muslimin. Ketika Yazid bin Mu’awiyah mendeklarasikan dirinya sebagai penguasa ummat, Yazid meminta Imam Husain mengangkat sumpah setia (bai’at). Imam Husain tetap pada pendiriannya untuk menolak secara tegas kekuasaan dan kelakuan Yazid. Imam Husain segera sadar jika membai’at Yazid berarti akan membahayakan kelangsungan hidup ummat, maka demi membela dan melindungi Islam, tiada pilihan lain baginya untuk melakukan konfrontasi dan perlawanan terhadap kekuasaan Yazid dengan segala konsekuensinya.
Yazid memerintahkan pasukannya untuk merampas sumpah setia al-Husain bagaimana pun caranya, bahkan kebrutalan manusia yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia. Tibalah saatnya niat busuk Yazid untuk mengepung kemah al-Husain di padang pasir yang bernama KARBALA. Lalu mereka memblokir kebutuhan-kebutuhan pokok bagi kehidupan kemah termasuk jalan menuju air. Kemah itu terdiri dari Imam Husain, keluarganya, sahabat dan pengikutnya, yang semua membela mati-matian dan berhati baja di samping sang Imam. Para syuhada Alloh itu siap menghadang maut demi kemuliaan Islam, daripada tunduk kepada penguasa zhalim yang kotor dan busuk Yazid bin Mu’awiyah.
Inilah drama permusuhan abadi antara Islam sejati yang murni dan bening melawan kepalsuan, perseteruan haq dan bathil, iman melawan kufur, mustad’afin (tertindas) melawan si penindas. Karbala merupakan wujud perlawanan patriotik kaum tertindas melawan tirani diktator. Inilah episode di kancah KARBALA dimana Imam Husain-cucu kesayangan Nabi Muhammad saw- berusia 57 tahun, mengorbankan totalitasnya dan seluruh yang ia miliki, demi satu tujuan, yakni menggalang kemenangan al-Haq atas kepalsuan.
Karakter dan sifat Yazid adalah mengalir dari bapaknya yang bernama Mu’awiyah. Ia lahir dari Bani Umayyah yang tumbuh dalam keluarga yang dikenal licik, gila dunia, materialistis dan haus kekuasaan. Mu’awiyah menjadi muslim hanya karena jatuhnya Makkah ke tangan Nabi yang mulia saw. Mereka yang menjadi muslim dengan cara seperti ini disebut Tulaqa (istilah hina bagi kafir yang menjadi muslim hanya ingin menyelamatkan diri). Mu’awiyah berbapak Abu Sufyan-tokoh besar pemimpin musyirikin Makkah, ber-ibu Hindun dan saudara kandungnya yang bernama Yazid bin Abu Sufyan, semuanya adalah Tulaqa. Mu’awiyah tidak akan pernah melupakan aib ini sepanjang hayatnya, maka perasaan untuk membalas dendam menggelora dalam hatinya. Sayyidina Umar, Khalifah kedua, mengangkat saudara kandung Mu’awiyah, Yazid bin Abu Sufyan, sebagai gubernur Syria ketika kaum muslimin menaklukan wilayah itu dari Byzantium. Selang beberapa tahun kemudian, Yazid bin Abu Sufyan mati karena suatu penyakit, kemudian khalifah Umar mengangkat Mu’awiyah pada jabatan saudaranya sebagai gubernur. Segera setelah naik tahta, Mu’awiyah menyelewengkan kekayaan Baitul Maal Syria demi kepentingan pribadi untuk mengambil hati dan mempengaruhi penduduk. Lalu Mu’awiyah membangun basis pendukung besar untuk membentuk jaringan mata-mata melawan ahlul bayt dan para pecintanya.
Ketika Imam Ali kw menjadi khalifah, beliau memutuskan untuk memecat Mu’awiyah, sekalipun Mu’awiyah memiliki basis pendukung yang kuat. Pada saat itu Mu’awiyah telah menjadi gubernur Syria, Palestina dan Yordania selama 17 tahun. Mu’awiyah membangkang, dia menolak perintah Khalifah. Sikap kurang ajar dan tidak tahu malu Mu’awiyah adalah tidak mengakui Imam Ali as sebagai Khalifah, bahkan membentuk pemerintahan bayangan di Syria Besar dan mulai kampanye tuduhan penghianatan dan isu balas dendam melawan Imam Ali as. Mu’awiyah dengan kejinya menuduh Khalifah Ali kw atas pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan. Akibatnya, sekelompok pemberontak sekitar 3.000 orang yang didukung oleh sebagian sahabat seperti Thalhah, Zubair bergerak dengan dipimpin oleh Aisyah binti Abu Bakar.
Apakah secuil fakta sejarah ini akan dihapuskan dalam ingatan kaum muslimin atau bahkan akan membantahnya?
Wallohu a’lam

Hiden history

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s