Islam dan Etika Perang

Bila kita rajin menyimak berita, baik melalui televisi, baca koran ataupun mendengarkan radio, pastilah kita jumpai berita tentang peperangan. Rasanya tiada hari tanpa perang di bumi ini. Betapa banyaknya darah tertumpah sia-sia, ribuan, puluhan ribu bahkan jutaan nyawa melayang akibat perang.
Apa alasan manusia melakukan peperangan? Bagaimanakah kita sebagai seorang muslim memandang persoalan perang ini? Bolehkah kita berperang? Siapakah yang berhak memutuskan kaum muslimin untuk berperang? Presiden? MUI-kah? Bagaimanakah pertanggungjawabannya kelak di hadapan Alloh atas tetesan darah yang tertumpah? Apakah setiap muslim yang mati dalam berperang itu matinya sebagai syuhada? Bagaimanakah statusnya muslim berperang dengan sesama muslim lagi, sebagaimana yang terjadi antara GAM-TNI? Manakah di antara kedua pihak yang berhak mendapat gelar syuhada? Kedua-duanyakah? Atau keduanya bathil?
Islam menetapkan garis pedoman yang jelas tentang persoalan perang. Islam mengijinkan terjadinya peperangan bila :
 Dalam rangka pertahanan diri
 ketika negara-negara kafir menyerang negeri-negeri Islam
 negara lain menindas atau menjajah kaum muslimin
 demi keagungan Islam
 demi tegaknya Dinulloh
ketentuan perang:
 dilakukan dengan cara yang tertib
 menghindari sebagai pihak yang memulai peperangan
 diharamkan menyiksa anak-anak dan wanita
 menghindari perusakan tanaman, binatang ternak dan sumber air
 dengan kekuatan seminimal mungkin (seperlunya)
 tanpa amarah
 perlakuan manusiawi terhadap tawanan perang

Kaum muslimin berperang harus semata-mata tunduk dan patuh pada prinsip-prinsip keadilan Alloh bukan pada prinsip kebangsaan (nasionalisme) atau paham ashobiyah lainnya.
“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Alloh (Sabilillah), dan orang-orang yang kafir berperang di jalan Thoghut.” (QS 4:76).
Islam mengijinkan peperangan dalam rangka membela diri “Telah diijinkan (berperang) bagi orang-orang yang dizalimi. Dan sesungguhnya Alloh benar-benar Maha Kuasa menolong mereka. [ al-Hajj (22):39 ].
Untuk menegakkan dan mempertahankan keagungan Islam (bukannya hanya sekedar menyebarkannya), melindungi kaum yang terusir dari kampung halaman mereka dengan kekerasan disebabkan mereka itu Orang Islam ( QS al-Hajj (22):40) “orang-orang yang terusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, tiada lain karena mereka berikrar: Tuhan kami hanyalah Alloh”. [ QS al-Hajj (22): 40].
dan melindungi kaum muslimin yang sedang mengalami penindasan “Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Alloh (Sabilillah) dan (membela) orang-orang yang lemah; baik laki-laki, wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo’a :’Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri yang zalim penduduknya ini, dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau dan berilah kami penolong dari sisi Engkau.” [QS an-Nisa (4): 75]
Maka, keseluruhan paham dan konflik yang terjadi dengan tidak berdasarkan kaidah-kaidah tadi adalah tidak islami (baca bathil).
“dan perangilah di jalan Alloh orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang yang melampaui batas. [QS al-Baqarah (2): 190].
Islam berpihak pada perdamaian dan menentang penindasan. Pembunuhan terhadap jiwa yang tidak bersalah diancam hukuman dalam Neraka.
“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan ia telah membunuh manusia seluruhnya.” [QS al-Maidah (5): 32)

Al-Qur’an menegaskan peperangan itu harus dilakukan semata-mata untuk alasan mulia bukan tujuan duniawi:
“Hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Alloh. Barangsiapa yang berperang di jalan Alloh, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.” [QS an-Nisa (4): 74]

Ketika seorang musuh dikalahkan lebih baik dijadikan tawanan daripada dibunuh:
“apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Bila tiba saatnya kamu mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti.” [QS Muhammad (47): 4].

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s