Shalat Refleksi Cinta Kasih Seorang Hamba

Shalat merupakan ibadah yang paling indah dan refleksi cinta kasih. Seorang remaja ketika menceritakan pengalamannya saat melakukan shalat pertama, mengatakan, “Setiap suara spritual azan terdengar menyerukan kesaksian pada keesaan Allah Swt dan mengajak ummat Islam untuk mengerjakan shalat, saya merasa bahagia dan senang sekali.” Ia menambahkan, “Suara azan sungguh menenangkan hati. Akan tetapi saya merasa sedih karena tidak dapat melihat masyarakat mengerjakan shalat. Sebab, saya buta semenjak lahir. Saya tidak pernah menyaksikan dunia seperti yang disaksikan orang lain.”

Melanjutkan pengalamannya, remaja tersebut mengatakan, “Ibuku yang merasakan kesedihanku, sangat gelisah, kemudian ia mengajarkan saya bagaimana mengerjakan shalat.” Ia menuturkan, “Di awal-awal belajar shalat, saya berkeberatan mengerjakan shalat, namun pada akhirnya, saya dapat merasakan kenikmatan shalat.”

Lebih lanjut remaja itu mengatakan, “Saat mengerjakan shalat untuk pertama kali, saya seperti memasuki dunia yang penuh cahaya. Padahal saya sebelumnya hanya melihat kegelapan semata di dunia ini. Saat itu, tiba-tiba muncul sebuah cahaya yang menakjubkanku dan merasuk pada diriku. Sebelumnya, saya belum pernah melihat cahaya, namun saat itu,cahaya terang benderang nampak di depanku. Bagiku, peristiwa ini merupakan kemuliaan dan kasih sayang Allah Swt.”

Pengalaman remaja buta tersebut membuktikan adanya hubungan yang luar biasa dengan sebuah hakikat yang tidak terbatas. Spirit manusia yang mempunyai kedudukan tertinggi di alam semesta ini, mampu menjalin hubungan dengan Allah Swt dan menemukan jalan yang benar berdasarkan makrifah. Imam Ali as berkata, “Setiap makrifah manusia kepada Allah Swt meningkat, keimanananya akan mencapai derajat yang lebih tinggi.”

Itulah tadi pengalaman seorang remaj buta yang menyaksikan cahaya di awal shalatnya. Saat manusia dalam shalat dan ibadahnya menyebut kebesaran Allah Swt dan memujinya, ia akan termuliakan dengan sifat-sifat mulia Allah Swt dan spirit manusia itu akan membentuk dirinya sebagai makhluk yang mulia.

Shalat Potensi penghantar Manusia Kepada Kebaikan
Allah Swt menciptakan kekuatan pada diri manusia yang secara otomatis dapat menjadi sarana mencapai kebahagiaan dan kesempurnaan. Namun kekuatan tersebut akan menjadi sumber kezaliman dan kefasadan saat disalahgunakan dan disimpangkan ke jalan yang salah.

Sebagai contoh, ketamakan merupakan kekuatan yang dapat mendorong manusia menjadi rakus dunia. Kedahagaan tanpa batas itu kadang dapat menghancurkan manusia. Namun pada saat yang sama, ketamakan dan kedahagaan dalam mencari ilmu, malah membuat manusia menjadi pecinta ilmu yang akan menghantarkannya ke arah kesempurnaan. Akan tetapi memperhatikan dan membanding-bandingkan kekayaan, menindas hak orang lain, serta mengabaikan nilai-nilai akhlak dalam perniagaan merupakan di antara ranting berbahaya pada pohon ketamakan.

Menyinggung ketamakan, al-Quran menyebut sifat kikir manusia, dan mengingatkan bahwa salah satu karakter manusia adalah labil saat dihadapkan pada kesulitan. Akan tetapi, manusia saat dilingkupi kekayaan dan kesejahteraan, tiba-tiba menjadi sosok yang kikir. Dalam surat Maarij ayat 19-21, Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.”

Namun menurut pandangan al-Quran, ada sekelompok manusia yang luar biasa. Mereka adalah orang-orang yang dapat mengalahkan hawa nafsu. Surat Maarij dalam ayat selanjutnya, tepatnya pada ayat 22-23 menyebutkan, “Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya.”

Seseorang yang sungguh-sungguh mengerjakan shalat akan meraih cahaya ilahi yang terpancar dari hasil menjalin hubungan dengan sumber kesempurnaan dan keindahan. Pada saat yang sama, orang yang lalai akan shalatnya, secara bertahap dapat menekan jiwa labil dan arogannya. Untuk itu, mengingat Allah Swt dan merindukan-Nya akan membuat manusia berjalan di garis yang lurus dan menemukan kebahagiaan abadi. Bukanlah hal yang mengherankan, bila orang-orang yang mengerjakan shalat, tangguh dalam menghadapi badai kesulitan dan ingat akan orang lain saat mendapat kenikmatan.

Dengan ungkapan lain, shalat meningkatkan kapasitas spirit manusia dan mengkokohkannya saat menghadapi berbagai kesulitan dan kelabilan. Tradisi shalat juga membuat manusia lupa akan orang lain saat senang, bahkan berupaya menyenangkan orang lain. Tentunya, kondisi ini akan dirasakan saat manusia tidak pernah meninggalkan shalatnya dan terus mengerjakannya secara kontinyu.

Mengingat dampak positif shalat pada seseorang, Allah Swt menghendaki hamba-hamba-Nya mennyucikan dirinya dari ketamakan dunia malalui shalat. Al-Quran menyebut bekerja dan berniaga sebagai perbuatan mulia. Akan tetapi pada saat yang sama, kitab suci ini mengingatkan pekerjaan dan perniagaan tidak akan menyebabkan para pendiri shalat sebenarnya melalaikan Allah Swt. Sebab, mengingat Allah Swt merupakan landasan dan pondasi yang paling kokoh untuk mencapai kebahagiaan.

Sumber : IRIB

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s