Apakah setiap yang berhaji menjadi tamu Alloh?

Dalam rukun Islam, pelaksanaan ibadah haji merupakan rukun Islam yang kelima. Jika kita melaksanakan suatu syari’at yang merupakan bagian dari suatu rukun, yang berarti patok, maka hal ini berarti seseorang akan layak dan pantas mengerjakan patok berikutnya jika patok sebelumnya telah mampu ia lewati dengan benar. Sehingga ketika seseorang  menunaikan ibadah haji yang merupakan rukun/patok Islam yang kelima, maka idealnya adalah ia harus melewati patok-patok/rukun-rukun sebelumnya dengan benar. Berdasarkan hal ini, maka kita perlu mengevaluasi, kriteria manusia yang  bagaimana yang telah layak dan pantas melaksanakan patok yang kelima ini.

Ibadah haji merupakan salah satu pelaksanaan pengabdian kepada Alloh yang melambangkan/mengisyaratkan bahwa manusia yang pergi kesana adalah manusia pilihan, manusia yang layak dan pantas untuk mendapatkan gelar “Tamu Alloh”. Jika kita mulai mengingat dari awal, bahwa sebelum rukun Islam yang kelima ini (Haji), maka rukun Islam yang keempat adalah shaum (orang yang shaum adalah orang yang dipanggil oleh Alloh untuk melaksanakan sesuatu dari Alloh dan untuk kepentingan Alloh semata) dan selesai pelaksanaan ibadah shaum maka itu berarti ia telah kembali kepada fitrah. Setelah selesai menyempurnakan rukun Islam yang ke empat dan kembali kepada fitrahnya sebagai seorang ‘abdulloh yang muttaqin, maka selanjutnya ia layak dan pantas untuk menjadi “Tamu Alloh”.

Essensi insan yang berdatangan ke tanah suci untuk memenuhi panggilan Alloh dan nanti ia akan berstatus sebagai tamu Alloh adalah insan yang telah mewujudkan diri sebagai manusia muwahid (yang bertauhid), yang betul-betul dengan pakaian, sikap, ucapan yang menyatu dengan gerakan yang dilakukannya. Melambangkan manusia yang Tauhidulloh yang muwahid dalam segala aspek kehidupan. Pakaiannya putih, jiwanya putih, ucapan yang sama, adanya keseragaman dalam tindakan dan perbuatan. Gerakan yang sama, shaf yang sama, itu mengisyaratkan saya satu.

Saat kita berbicara tentang ibadah haji saat ini, dapat kita lihat kenyataan yang ada, nampak bahwa ‘ibadah haji yang dilaksanakan pada hari ini semata-mata sebagai budaya atau identitas dari lambang status sosial seseorang atau tidak sedikit untuk menutupi kemunafikan dirinya dalam ber-Islam. Barangkali hal ini terjadi karena salah memahami ayat yang berhubugan dengan haji itu sendiri. Contohnya, dalam kalimat “Istatho’a ilaihi sabila”, ayat ini lebih cenderung diartikan perbekalan/ongkos dari pelaksanaan ibadah haji. Padahal kata “Istatho’a” berarti kuasa hukum, jaminan yang berlaku, syari’at UU yang berjalan saat ini betul-betul menjadikan jaminan atas pelaksanaan syari’at yaitu  pelaksanaan rukun ‘ibadah haji, jaminan dari Alloh, dari petugas Alloh. Pada masa Rasululloh saw, setelah perjanjian Hudaibiyah, tanpa pandang bulu, semuanya melaksanakan ‘ibadah haji, karena melaksanakan perintah, mengapa diperintahkan? Karena menunjang, mendukung akan pelaksanaan syari’at. Dan yang dimaksud dengan kata ‘sabila’ adalah hukum yang dapat menunjang kepada kelancaran pelaksanaan ibadah haji tersebut. Jadi yang dimaksud dengan ‘Istatho’a ilaihi sabila’ adalah seperangkat hukum yang dapat menunjang / menghubungkan kepada pelaksanaan hukum Islam yang kelima secara sempurna.

Jadi seharusnya ibadah haji itu bukan hanya sekedar budaya atau lambang status sosial seseorang, tapi betul-betul merupakan wujud pelaksanaan pengabdian kepada Alloh, yang melambangkan / mengisyaratkan bahwa manusia yang pergi kesana merupakan manusia pilihan, manusia yang bersatus Tamu Alloh. Dapat jadi jika ibadah haji yang dilakukan seseorang hanya untuk menunjukkan lambang status sosial atau menutupi kemunafikan  dirinya, maka tidak menutup kemungkinan justru yang banyak adalah undangan dan tamu syaithan. Sekalipun ada manfaatnya, yang tadinya tidak sholat jadi rajin sholat, tapi di sisi lain faktor-faktor syari’at Islam yang lainnya nol karena sebelumnya ia tidak meniti tahap demi tahap syari’at Islam sebelumnya.

Orang yang melaksanakan ‘ibadah haji dengan benar dapat kita lihat dalam manasik-manasik ‘ibadah haji itu sendiri, contohnya dalam pelaksanaan ‘ibadah haji ada gerakan yang disebut Thowaf, sa’i, wukuf, melempar jumrah di padang Arofah. Gerakan-gerakan itu mengandung makna dan arti yang jauh, contohnya ketika tiba di Maqot (pemberangkatan pelaksanaan), pakaian diganti dengan pakaian ihrom dengan pakaian yang berwarna putih ini mengisyaratkan bukan hanya pakaian saja yang berwarna putih, tapi bersih jiwa dan pemikirannya, sekalipun ia seorang pangkat, aghnia, ulama, dst itu bersih. Tidak terpengaruh aneka ragam apa yang menempel / melekat di tubuh, dengan ucapan yang sama Labaika Allohumma Labaik………………

Pelaksanaan Thowaf mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali yang merupakan suatu gambaran, konfigurasi kehidupan insan beriman, bahwa ia kapan dan dimana pun jadi apapun dan siapa pun, baik kelompok besar atau kecil menggambarkan bahwa tidak pernah selama hayatnya  hidup dalam lingkaran syaithan, selamanya dalam lingkaran Alloh, lingkaran ketentuan Alloh, hukum Alloh, Undang-undang Alloh. Tanyakanlah! Apakah kehidupan mereka yang pergi kesana seperti ini? Gerakan jumroh / melempar batu, apa yang dilempar dan dengan apa? Suatu pelaksanaan manasik yang sangat berat (jumroh), mengandung resiko yang sangat berat. Menggambarkan sesuatu yang pantas dilempar yaitu Syaithan. Sesuai dengan kronologis terjadinya gerakan jumroh itu sendiri yaitu berawal dari peristiwa Nabi Ibrahim as ketika mendapatkan perintah untuk menyembelih Ismail (menggambarkan ketika Syaithan menghalanginya, maka beliau melempari syaithan dengan mengambil batu sebagai suatu i’tibar). Pada zaman Nabi Musa as yang menjadi figur penghambat, penentang, pelaksana syari’at Islam adalah : Fir’aun (lambang penguasa), Haman (lambang manusia teknokrat), Qarun (lambang manusia kaya). Melempar dalam bentuk makro bagi umat Islam sedunia adalah mampukah sebelum pergi ke sana melempar penghambat dan perintang akan tegak teguhnya syari’at. Apakah artinya jika disini tidak mampu?

Ada satu hadits yang menyatakan bahwa jika seseorang yang mati dalam pelaksanaan ‘ibadah haji, maka ia termasuk mati syahid. Yang dimaksud Rasul ialah : 1. yang berangkat ke sana adalah orang yang layak dan pantas menangani sesuatu dari Alloh untuk Alloh (shaum), kemudian ia  dipanggil oleh Alloh, supaya berstatus tamu dari Alloh (sebagai muwahid yang tauhidulloh), sehingga terbukti cara berpakaiannya, isyarat, gerak-geraknya kepada Alloh. 2. ketika mengucapkan dengan lisannya Labaika Allohumma Labbaik, Laa syarika laka labbaik maka hal ini terbukti dengan sikapnya! Karena kalimat ini merupakan pernyataan sikap hidupnya di hadapan Alloh, tidak ada tandingan bagi Allah dalam kesehariannya. 3. Pada saat semua kumpul  di padang Arofah, maka ada yang mesti mereka bicarakan. Mereka adalah tamu Alloh dan di sisi lain ialah yang pantas dan layak menjadi duta ummat Islam. Pelaksanaan ‘ibadah haji bukan hanya sekedar ‘ibadah individual, tetapi erat kepentingannya dengan maslahat ummat. Di sana adalah waktu yang tepat untuk membicarakan masalah yang menyangkut kepentingannya dengan umum, sebab Islam, mu’min yang ada pada hakikatnya adalah satu, sesuai dengan apa yang diperagakan manusia muwahid. Mereka datang kesana untuk membicarakan / memusyawarahkan sesuatu yang menyangkut maslahat ummat, berkumpul bersama dalam sidang tahunan, untuk bertukar pikiran, tukar pengalaman, apa yang telah dicapai, yang patut ditiru oleh pihak lainnya. Mu’min seperti bangunan yang satu sama lain tunjang menunjang. Apa yang diperoleh oleh seseorang ketika ia datang ke sana, adalah untuk kepentingan ummat!

Saat  ini pelaksanaan ‘ibadah haji tidak kurang dan tidak lebih hanya sebagai lambang status sosial atau budaya saja. Idealnya, jika pelaksanaan syari’at atau hukum pelaksanaan ‘ibadah haji ini merupakan suatu ketetapan, maka orang yang akan datang ke sana akan ditanya lebih dulu, bagaimana ia melaksanakan rukun-rukun sebelumnya (rukun Islam yang pertama hinga ke empat), jika ia telah baik pelaksanaan rukun-rukun sebelumnya, oke! Ia dapat pergi ke sana! Karena bagaimana pun rukun Islam yang ke lima ini tidak dapat dipisahkan dengan rukun-rukun sebelumnya. Tentunya orang yang bertanya adalah orang yang layak dan pantas untuk bertanya (pada masa Rasululloh oleh Rasululloh sendiri, penanya merupakan bagian dari perangkat hukum yang merupakan syarat perlu untuk pelaksanaan syari’at ini).

Status hukum pelaksanaan ‘ibadah haji saat ini adalah wajib.

  1. Namun bagaimana dengan orang-orang yang melaksanakannya? Samar! Bagi seseorang yang mau berpikir, tentu ia akan merasa malu, orang yang datang ke tanah suci adalah tamu Alloh, layakkah, pantaskah menjadi tamu Alloh? Benarkah ia dipanggil oleh Alloh? Setidaknya seseorang yang telah melakukan ‘ibadah haji, maka ia telah mampu menemukan sholat khusu’, karena ia pernah melakukan suatu ‘ibadah secara tepat sasaran, tepat arah, langsung berhadapan dengan Alloh Swt (Ka’bah sebagai Baitulloh).
  2. pelaksanaan ‘ibadah haji pada intinya INTROSPEKSI diri, keadaan secara umum, layakkah menjadi tamu Alloh. Seperti yang dikemukakan di atas, bahwa dalam pelaksanaan ‘ibadah haji memerlukan seperangkat hukum yang dapat menunjang / menghubungkan kepada pelaksanaan hukum Islam yang kelima secara sempurna ini, maka jaminan pelaksanaan ini dapat berbeda-beda di setiap tempat, contoh negara iran. Jika di Iran maka pelaksanaan ibadah haji wajib, karena disana ada yang mempertanggungjawabkan, atas dasar perintah, merupakan misi ummat. Pada masa Rasul yang bertanggungjawab adalah Rasul/bertanggungjawab dalam segala sektor, bukan hanya sekedar bertanggungjawab pada pelaksanaan ‘ibadah haji saja, karena ia berhubungan dengan rukun-rukun yang lainnya dan rukun yang kelima ini tidak dapat terlepas dari rukun sebelumnya.

    Baitulloh

    Baitulloh

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s